Museum Joglo Ciptowening

MUSEUM JOGLO CIPTOWENING IMOGIRI, YOGYAKARTA
Museum keduaku di tahun 2014 adalah Joglo Ciptowening. Mengapa. Sederhana saja, karena namanya bagus. Jadi pada hari yang tak hujan lagi aku berangkat ke Terminal Giwangan, kemudian berganti bus kecil ke Imogiri. Tiba di Pasar Baru Imogiri, perjalanan dilanjutkan dengan kaki melalui Jalan Makam Raja-Raja menuju museum. Selama ini aku memang mencapai sebagian besar museum dengan kendaraan umum digabung kaki. Dengan demikian mengunjungi museum tetapi tak menambah emisi karbondioksida karena penggunaan kendaraan pribadi.

GALERI BATIK TULIS
Museum Joglo Ciptowening menempati rumah joglo nan mungil dikelilingi rindang. Terdiri dari dua ruang pameran yaitu Galeri Batik Tulis dan Ruang Koleksi. Galeri Batik Tulis adalah showroom batik tulis hasil karya para pembatik setempat.
Ruang Koleksi menyimpan sejumlah batik yang dipajang maupun dilipat rapi dalam lemari kaca. Menurut staf museum kekhasan batik imogiri terletak pada motif semen rama. Sayangnya, kain batik motif khas tersebut sedang dipinjamkan untuk reproduksi.

MOTIF SEMEN
Sebagai informasi motif semen adalah suatu kelas pola yang terdiri dari delapan motif utama, terpenting adalah meru (gunung) terbalik, sawat atau sepasang sayap, pohon kehidupan atau bunga teratai, motif arsitektur menggambarkan tempat ibadah dan berteduh (The Glory of Batik, 2011). Sawat adalah lambang burung garuda, kendaraan Dewa Wisnu. Motif ini gampang dikenali karena bentuknya yang so burung membentangkan sayap dengan ekor seperti merak jantan.

BATIK KELENGAN
Sejumlah kain batik kelengan bernuansa kebiruan merupakan hasil karya pembatik setempat. Batik kelengan dihiasi bermacam-macam flora dan fauna bahkan binatang laut yang tak lazim dijumpai pada batik yogyakarta halnya kaki seribu. Sebaliknya adalah batik indramayu dari pesisir utara yang diperkaya simbol dari kepercayaan china seperti ikan dan kaki seribu raksasa yang melambangkan berturut-turut kemakmuran dan penangkal nasib buruk.

RUANG KOLEKSI
Jujur saja jika sejak semula aku tidak membayangkan Joglo Ciptowening seperti apa. Apa adanya museum diterima dengan gembira telah berjumpa. Lagipula museum kecil bukannya tak menarik. Koleksi kecil tetap memikat jika masing-masing dapat ditonjolkan keunikannya. Apalagi kain. Dunia sehelai kain adalah kisah yang panjang. Tapi ini loh, betapa ajaibnya menemukan museum yang koleksinya tidak dilabeli sama sekali padahal sudah 10 tahun usianya.
Sedangkan pelabelan dapat dikerjakan misalnya dari sisi motif batik. Sebagai contoh tentang semen rama di Monumen Batik Yogyakarta, 'Diambil dari nama Prabu Rama Wijaya dalam cerita pewayangan Ramayana. Motif Semen Rama menyimbolkan delapan ajaran keutamaan bagi seorang pemimpin atau raja yang dikenal sebagai asta brata (asta: delapan, brata: keutamaan) dan diwejangkan oleh Rama Wijaya kepada Gunawan Wibisana saat akan dinobatkan menjadi raja di Negeri Alengka. Asta Brata terdiri dari Indra (kemakmuran), Yama (adil), Surya (keteguhan hati), Sasi (penerang), Bayu (berbudi luhur), Dana atau Baruna (kesejahteraan), Pasa (berhati lapang), Agni (sakti menumpas angkara murka).'

ALAT PINTAL
Di Galeri Batik Tulis kutemukan motif kupu tarung di sehelai kain batik patron. Motif ini istimewa karena satu ceritanya pernah aku dengar. Dia adalah motif yang berkibar di bendara kapal-kapal Pati Unus saat berlayar ke utara untuk mengusir Portugis dari Malaka.
Di Galeri Batik Tulis juga terdapat sebuah alat pintal. Mahatma Gandhi memimpin rakyat India membebaskan negerinya dari ketergantungan kepada katun Inggris dengan charkha, alat pintal seperti inilah. Bukankah foto Gandhi berpakaian dhoti yang sederhana dengan sebuah pemintal sangat terkenal sehingga nyaris identik Gandhi dan alat pintalnya. Dia sang pemintal tak hanya memintal benang melainkan nasib bangsanya. Tak lagi bergantung kepada Inggris tetapi membawa bangsanya menuju kemerdekaan; menginspirasi dan menggerakkan India untuk berdikari.

POHON SRIGADING
Di halaman museum sebatang pohon cempaka sedang dipangkas habis-habisan. Sedangkan di kaki pohon srigading bertebaran bunga-bunganya yang gugur semalam. Srigading dapat digunakan untuk pewarna alami, demikian penjelasan Mbak Lia. Caranya si bunga dicelupkan ke air. Aku mengambil lima kelopak dari tanah dan langsung dicemplungkan ke botol minuman. Bisa kulihat kekagetan kecil di mata Mbak Lia dan Mbak Ning. Sorenya memang air sudah kekuningan.

KOLEKSI PATUNG
Yogyakarta, 11 Januari 2014. Pukul satu lewat ketika aku meninggalkan museum. Tiba di Pasar Baru, pak ojek mengatakan tak ada lagi bus. Aku melangkah keluar dari pasar dan hitchhiking. Sebuah pick-up berhenti, mengangkutku di boks belakang hingga perempatan Terminal Giwangan. Selanjutnya pulang naik bus kota. Setelah beberapa saat melaju terdengar suara santai kernet mengingatkan seseorang di belakangku, 'Penumpang dilarang merokok.' Si penumpang bertanya kenapa. Jawab kernet, 'Prihatin.'
Tanggal Terbit: 19-01-2014 |