Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Replika KRI Matjan Tutul yang tenggelam bersama Komodor Yos Sudarso saat pertempuran di Laut Arafuru, 1962, telah hadir di Museum Satriamandala, Jakarta.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Trowulan, Trowulan, Jawa Timur

 

Museum Anjuk Ladang

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


AL_prasasti.jpg

PRASASTI ANJUK LADANG
Koleksi Museum Nasional

Nganjuk, sebuah kabupaten di Jawa Timur mengambil namanya dari Anjuk Ladang yakni nama sima swatantra atau desa perdikan (bebas pajak) di masa Raja Sindok (929-947) yang memerintah Kerajaan Medang periode Jawa Timur.

Pernah ditemukan di Nganjuk sebagaimana dikisahkan Stamford Raffles dalam The History of Java sebuah monumen besar, 'After a considerable interruption, which contains no remains at present, I discovered, in a direction almost due east from Mauspati, in the district of Anjog, a monument with an inscription in a more perfect state. In form this, as well as the others, resembles the common tomb-stones of our burial grounds, exceeding them only in size...'

Kemungkinan monumen serupa batu nisan dengan inskripsi yang dimaksud Raffles adalah Prasasti Anjuk Ladang yang memang raksasa di kelasnya. Prasasti utuh ditemukan di Candi Lor sedangkan sang candi sendiri hanya tersisa reruntuhan. Malahan sebatang pohon kepuh tua tumbuh menjulang dari candi. Ada baiknya juga karena dengan demikian kaki candi terikat akar sehingga tidak ambruk seluruhnya. Seakan alam tak ingin candi menghilang dari tanah ini.

 

AL_museum.jpg

MUSEUM ANJUK LADANG, NGANJUK

Museum Anjuk Ladang di kota Nganjuk memiliki banyak sisi yang kuhargai. Berangkat dari titik yang menjadi perhatianku ialah label museum. Dalam hal ini Anjuk Ladang memang menunjukkan keseriusannya. Dimulai dari prasasti warisan Raja Sindok yang disandangnya sebagai nama.

'Prasasti Anjuk Ladang ditemukan di Candi Lor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret. Dibuat dari batu andesit dengan ukuran tinggi 209 cm, lebar 102 cm, tebal 74 cm. Pada saat ini prasasti yang asli disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Prasasti Anjuk Ladang memakai huruf dan bahasa Jawa Kuna, dibuat atas perintah Sri Maharaja Mpu Sindok Sri Isana Wikrama Dharmatunggadewa pada bulan Caitra, tanggal 12 paroh petang, tahun 859 Saka atau tanggal 10 April 937 M. Isi prasasti tentang penetapan tanah dan sawah di Desa Anjuk Ladang menjadi tanah Sima Swatantra. Dari bagian prasasti yang dapat terbaca dapat ditafsirkan bahwa alasan penetapan Sima karena penduduk Desa Anjuk Ladang telah berjasa kepada raja sewaktu terjadi suatu peperangan. Hal ini diperkuat dengan disebutnya Jayastamba sebagai bangunan kemenangan dalam prasasti tersebut. Adapun penetapan Sima yaitu daerah Anjuk Ladang dibebaskan dari kewajiban membayar berbagai jenis pajak, untuk selanjutnya digunakan untuk pemeliharaan bangunan suci di Anjuk Ladang.'

 

AL_sengkala.jpg

CANDRASENGKALA PRASASTI ANJUK LADANG
Koleksi Museum Nasional, Jakarta

Anjuk Ladang tidak semestinya berhenti sebagai sebuah nama yang berarti tanah kemenangan. Anjukladang terlebih-lebih adalah spirit yang menang. Atas apa. Lebih dari seribu tahun silam adalah menghentikan pasukan yang merangsek dari Sumatera. Di masa kini diantara segala interpretasi aku memilih spirit yang menang atas diri sendiri, ialah spirit yang mampu menghentikan diri dari perbuatan cela. Cela seperti apa.

Ada tertulis di Prasasti Anjuk Ladang (baris 24, sisi depan), '...memaki, menuduh yang tidak benar, meludai orang lain, memukul, mengancam dengan senjata tajam, mengamuk, mengganggu wanita yang sudah bersuami/bertunangan, mengejar musuh yang telah lari dan membunuhnya, bunuh-membunuh, pukul memukul, semua perbuatan jahat.'

 

AL_pendapa.jpg

PENDAPA MUSEUM

Di pendapa museum, replika prasasti yang terlihat langsing berdiri tegak diapit kereta bupati dan wakil bupati. Kereta-kereta ini digunakan untuk pawai alegoris saat peringatan ulang tahun Nganjuk yang jatuh pada 10 April. Tanggal penerbitan Prasasti Anjuk Ladang. Persis duduk di kalimat pertama prasasti, 'Selamat tahun 859 Saka yang telah berlalu, pada bulan Caitra tanggal 12 paro terang (10 April 937 M).' Raja Sindok yang beragama Hindu menggunakan almanak Saka dan Caitra adalah bulan pertamanya.

 

AL_boneka.jpg

BONEKA KAYU KHAS NGANJUK

Sekilas ruang pameran Museum Anjuk Ladang yang difungsikan sejak 10 April 1996 tampak sederhana. Tak urung dengan bantuan penjaga museum maka pengunjung dapat melihat sisi yang menarik, sesuatu yang Nganjuk banget seperti boneka mantenan. Mainan khas Nganjuk ini dibuat dari kayu waru atau randu. Dahulu kala boneka mantenan dibuat sebagai perlengkapan ritual yaitu untuk perlengkapan sajen pengantin maupun tumbal untuk pembuatan jembatan dengan cara dilarungkan di sungai tempat jembatan akan melintas. Namun sekarang boneka mantenan lebih dijual sebagai mainan anak-anak.

Tak kalah unik adalah meja rias yang menampilkan seni ukir dari Madura dengan hiasan berupa sulur-suluran daun yang melambangkan kelangsungan hidup dan bunga melati sebagai simbol kemurnian.

Sedangkan koleksi arkeologi diperoleh dari dari berbagai kecamatan di Kabupaten Nganjuk seperti Bagor (uang gobog atau kepeng cina), Kertosono (arca Parwati), Nganjuk (arca Wisnu), Rejoso (genta perunggu), menunjukkan kekayaan dan sejarah budaya yang panjang di kabupaten ini.

 

AL_arca_nganjuk.jpg

ARCA NGANJUK
Koleksi Museum Nasional

Diantara yang seru dari harta karun arkeologi Nganjuk adalah arca-arca perunggu yang ditemukan di Desa Candirejo, tak jauh dari Candi Lor pada tahun 1913. Berukuran 8,6 - 16,7 cm dan sebuah Vairocana setinggi 30 cm; diperkirakan berasal dari abad X. Telah diidentifikasi oleh FDK Bosch sebagai sebuah set tiga dimensi dari Mandala Vajradhatu; satu dari dua yang pernah ditemukan di Indonesia.

Arca mandala ini istimewa tidak saja karena bagian dari mandala tiga dimensi tetapi juga sangat Indonesia atau Jawa tepatnya sebagaimana dikemukakan oleh Pauline Lunsingh Scheurleer (Ancient Indonesian bronzes, 1988), The Nganjuk bronzes do not show stylistical influence from North-East Indian sculpture or any other school of sculpture. They are purely Indonesian, or Javanese to be precise. I am unaware of any other instance of a kala as a decorative motif on a backslab of a bronze statuette from ancient Indonesia.'

 

Museum Nasional mengoleksi puluhan arca mandala yang dikenal secara kolektif sebagai Arca Candirejo atau di dunia internasional sebagai Arca (Mandala) Nganjuk. The Metropolitan Museum of Art di New York tak kurang memiliki enam arca Nganjuk. Eh! Museum di Nganjuk malahan tidak kebagian kue.


Tanggal Terbit: 27-04-2014

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.