Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Film 'Night at the Museum' telah meningkatkan kunjungan ke American Museum of Natural History, New York sebanyak 20 persen.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (6)

 

  Benteng (2)

 

  Biologi (8)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (4)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (17)

 

  Pribadi (5)

 

  Sejarah (13)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (13)

 

  Transportasi (2)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Brawijaya, Malang

 

Benteng Marlborough

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


bm_view.jpg

BENGKULU PERMAI
Pemandangan dari Benteng Marlborough

 

Tentang tujuan wisata kita tidak akan berpikir tentang Bengkulu. Lagian selain bunga rafflesia ada apa lagi di Bengkulu. Tapi bukannya menarik ya mencoba menemukan ada apa di sana. Hayoo gimana.

Yo!

Pertama-tama tentu saja menyusun rute perjalanan. Setelah timbang sana-sini begini rutenya. Bengkulu - Rejang melihat rumah tradisional - Lahat menjelajahi situs megalitik - Palembang - Bandar Lampung mengunjungi Gita Persada Butterfly Park. Setelah itu lihat uangnya sisa berapa. Jika tak cukup untuk membeli tiket pesawat maka pulang ke Jakarta naik bis. Beginian tak aku pusingi.

Tiket Jakarta-Bengkulu sudah jauh hari di tangan. Berangkat tanggal 28 November 2008. Bengkulu oye!

 

bm_masjid.jpg

MASJID JAMIK

Segera setelah membereskan urusan penginapan, aku langsung mencari Masjid Jamik karya Bung Karno. Jreeng! Atap tumpang tiga merah habis. Kerenlah!

Lanjut ke Benteng Marlborough. Dari gerbang Kampoeng China sudah kelihatan benteng di bukit kecil.

Di depan benteng sebatang ketapang raksasa diserang beringin kurung. Terlihat bak pohon punya dua bentuk daun. Seorang ibu berjualan di bawah ketapang menatapku.

Setelah puas disengat matahari Benteng Marlborough aku mencari rindang. Ditemani angin laut menerawang sejarah tempat ini. Cukup lama Bengkulu pernah diduduki Inggris (1685-1825). Lieutenant Govenor pemimpin terakhir sebelum Inggris meninggalkan Bengkulu karena Traktat London 1824 adalah Stamford Raffles (1818-1824).

Di sini Inggris menguasai perdagangan lada dan mendirikan Benteng York, Anna, dan Marlborough. Benteng terakhir dibangun selama periode 1714-1718. Dinamai Marlborough sebagai penghormatan terhadap Duke of Marlborough Pertama, John Churchill (1650-1722).

Nama ini mengingatkan kita kepada Winston Churchill (1874-1965). Jika ditelusuri kita akan menemukan Pak Winston adalah cucu Duke of Marborough Ketujuh. Panjang nian garis keturunan dari Pak John ke Pak Winston. Begini saja, ringkas kata Benteng Marlborough dinamai menurut nenek moyang Perdana Menteri Inggris Winston Churchill.

 

bm_meriam.jpg

BENTENG MARLBOROUGH

Dari atas benteng terhampar Samudra Hindia dan Pantai Tapak Padri. Di perkampungan nelayan saat petang dapat dijumpai pemandangan nelayan menyirat jala, anak-anak bermain sepakbola, burung-burung bondol terbang dekat katang-katang. Namun seperti apa lingkungan di benteng ini dahulu kala.

Jedidiah Morse dan Elijah Parish (A New Gazetter of the Eastern Continent, 1808) menceritakan Bengkulu tempo dulu. Kerbau-kerbau jinak berkeliaran, tanah subur menumbuhkan rumput yang tinggi-tinggi, penduduk membangun rumahnya dari bambu. Tapi mungkin bukan tempat yang terlalu sepi ya karena menurut catatan perjalanan Amasa Delano (1817) Inggris menempatkan sekitar 1200-1500 orang di sini.

Lagi asyik kongko-kongko dengan Pak Narsun dan anaknya dari Kalianda, Lampung tiba-tiba terjadi gempa. Pak Narsun panik. Aku bilang *sok yakin* gpp Pak, Bengkulu kan daerah gempa dan benteng ini sudah 300-an tahun tapi masih kuat. Artinya kalau gempa di sini malah aman Pak *padahal dalam hati deg2an juga*

 

bm_parr.jpg

MONUMEN THOMAS PARR

Hampir pukul lima ketika aku melewati Monumen Thomas Parr. Jalan sudah lengang. Residen Thomas Parr dibunuh pada akhir tahun 1807. Kematian ini sering disebut-sebut sebagai tindakan penduduk lokal. Tetapi sebuah sumber menyebut keterlibatan Edward Coles (Senior) karena beberapa hal. Salah satunya adalah desakan Parr kepada Coles untuk mengembalikan sejumlah uang yang dipinjamnya dari pemerintah.

 

Istilah residen pernah digunakan sebagai sebutan untuk kedudukan tertinggi British East India Company di Benteng Marlborough. Berturut-turut, sebutan yang pernah digunakan adalah Deputi Gubernur (1685-1760), Gubernur (1760-1785), Deputi Gubernur (1785-1805), Residen (1805-1818), Letnan Gubernur (Lieutenant Govenor, 1818-1824), Residen (1824-1825).

Empat residen periode pertama adalah Thomas Parr (1805-1807), Richard Parry (1808-1810), William Parker (1810-1812), George John Siddons (1812-1818). Terakhir John Prince setelah Letnan Gubernur Raffles meninggalkan Bengkulu menuju Singapura. Jadi sebenarnya Raffles adalah satu-satunya Letnan Gubernur Benteng Marlborough karena sebelum dan sesudahnya istilah ini tidak pernah digunakan.

 

bm_rusa.jpg

RUSA DI HALAMAN BALAI RAYA

Esoknya sekali lagi aku pergi ke rumah dinas gubernur, disebut gedung daerah atau Balai Raya. Kemarin aku melewatinya tetapi tidak sempat memotret karena kesorean.

Raffles tiba di Bengkulu pada 19 Maret 1818 dan dikabarkan tinggal di rumah ini. Benteng Marborough hanya sepelemparan batu dari sini.

William Marsden (The History of Sumatra, 1811) menceritakan Bengkulu dalam bukunya, ‘The only point of the island whose longitude has been settled by actual observation is Fort Marlborough, near Bencoolen, the principal English settlement, standing in three degrees forty-six minutes of south latitude.’

Lokasi dimana garis lintang pertama di Pulau Sumatra ditentukan melalui pengamatan aktual ternyata adalah Benteng Marlborough. Sedangkan garis bujur Bengkulu 101 derajat 42 menit 45 detik dikalkulasi Robert Nairne berdasarkan pengamatan transit planet Venus pada tanggal 3 Juni 1769. Meski kemudian dikoreksi Astronomer Royal menjadi 102 derajat.

 

bm_widuri.jpg

WIDURI DI PANTAI PANJANG

Setelah menyinggahi beberapa tempat, aku pergi ke Pantai Panjang menikmati ombak Samudra Hindia, Senja sudah tiba ketika aku memungut beberapa cangkang kerang, lalu menyusuri jogging track di pinggir pantai.

Banyak sekali bunga widuri ungu, ada juga yang putih. Katang-katang hanya tinggal daunnya yang hijau merambat di atas pasir. Tak kelihatan lagi bunga yang memang hanya mekar di waktu pagi. Makanya dia juga disebut beach morning glory. Tempat tumbuhnya katang-katang memberitahu kita tentang batas pasang tertinggi. Memang tumbuhan yang pintar.

Jam sudah menunjukkan pukul enam. Tadinya aku akan ke Gramedia untuk mencari buku tentang Bengkulu. Tak kuduga saat menyeberang, dilabrak motor. Lumayan, aku sampai terguling-guling dan kacamata terlempar entah kemana. Alhasil, besok pulang ke Jakarta dengan Mandala penerbangan pertama.

Peace...

Banyak hal dalam hidup kita adalah pilihan. Aku bisa memilih memaki bocak yang menabrakku dan menggagalkan rencana perjalananku. Tapi aku juga bisa memilih mengenang Bengkulu dalam dua hari yang penuh penemuan menyenangkan. Termasuk menemukan kebaikan hati yang ternyata masih dimiliki negeri ini, seperti anak-anak yang membantuku saat kecelakaan, memboncengi ke apotek beli obat, mengantarku ke penginapan, membantu mencarikan tiket. Esoknya masih menemani aku ke bandara. Pagi-pagi padahal.

Katanya, manusia bahagia apa tidak, karena pilihan. 

Sepucuk surat bertarikh 1767, ditulis Robert Nairne dari Bengkulu kepada saudaranya John Nairne di Murray Bay, Quebec, Kanada. Ceritakan sebuah renungan. ‘Have you ever so much philosophy as to think everything that happens is for the best? I am so far of that mind that content and discontent I think arises (sic) rather from the cast of our own thoughts than from outward accidents...’

Aku rasa benar.

 

 

Tanggal Terbit: 23-05-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.