Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Lembu Suana merupakan lambang Kerajaan Kutai Kartanegara yang dibuat di Birma pada tahun 1855 dengan bahan dari perunggu kepal (Museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan Timur).

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (6)

 

  Benteng (2)

 

  Biologi (8)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (4)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (17)

 

  Pribadi (5)

 

  Sejarah (13)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (13)

 

  Transportasi (2)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Gedung Perundingan Linggarjati, Linggarjati, Jawa Barat

 

Museum Sejarah Nasional

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


msn_tugu_nasional.jpg

TUGU NASIONAL

Pertama kali aku mendarat di Bandara Sepinggan, Balikpapan pada tahun 2009. Traveling sebagai backpacker dengan keuangan pas-pasan tentu tidak memberiku kemewahan untuk naik taksi. Jadi jalanlah sampai tempat aku bisa naik angkot ke Terminal Damai.

Seorang ibu di angkot setelah menjawab pertanyaanku, menambahkan, 'Orang sini tidak seperti Jakarta. Orang sini jika ditanya akan diberitahu.' O..oh.

Di terminal aku ganti angkot ke kota. Tanya-tanya lagi. Seorang ibu menanggapi pertanyaanku. Di detik-detik menuju titik dia menegaskan, 'Orang sini tidak seperti Jakarta.' Gosh!

Aku mencoba menjelaskan jika banyak pendatang di Jakarta dan Jakarta sangat luas. Jalannya banyak dari protokol sampai jalan tikus. Jadi sangat mungkin orang yang kita tanyai memang tidak tahu. Kebanyakan pendatang mungkin juga tahunya hanya rute rumah-tempat kerja-mal. Penjelasanku tampaknya bisa diterima. Hari di Balikpapan ndadak jadi None Jakarta hey!

Sejak itulah aku bisa lebih menghargai Jakarta dan berhenti merasa bahwa di metropolitan ini adaku karena terdampar dan di luar keinginan. Apalagi sejak rajin menyamperi museum, timbul juga rasa bahwa kota ini punya cerita.

 

msn_chairil_anwar.jpg

PATUNG DADA CHAIRIL ANWAR

Jakarta ada kalanya terasa tidak semerawut seperti bayanganku. Jakarta juga tidak melulu macet, banjir, polusi. Setidaknya masih ada taman kota seperti Taman Menteng, Taman Suropati, Taman Medan Merdeka a.k.a. Monas.

Coba deh jalan-jalan ke Monas di akhir pekan. Terasa pasti jika manusia dan setiap makhluk memiliki tempatnya di sini. Orang-orang dari berbagai kalangan usia menikmati aktivitas mereka masing-masing. Olahraga tentu saja kegiatan dominan setelah pacaran. Senam, jogging, jalan, sepeda, sepatu roda, sepakbola, futsal, basket, badminton (kadang angin kencang juga padahal), rupa-rupa. Anak-anak bermain layangan, ayunan, dan lain-lain

Monas juga sebuah dunia kecil burung-burung, kupu-kupu, dan capung. Bentet kelabu adalah burung yang cukup sering aku jumpai. Bentet sering pula aku lihat di sangkar. Menemukan burung ini di alam bebas sungguh sebuah kelegaan.

Dengan sedikit eksplorasi kita akan menemukan beberapa patung di seputar Monas. Patung Dipanegara karya perupa Italia, Patung Kartini karya seniman Jepang, patung dada Husni Thamrin, patung dada Chairil Anwar dan puisi Diponegoro terpahat di belakangnya.

Sebuah taman kota yang cantik dan sudah lebih aman dibandingkan dulu sebelum Monas dipasang pagar.

 

msn_diorama.jpg

MUSEUM SEJARAH NASIONAL

Tadinya aku mengira lumayan mengenal Monas. Sekali waktu dibikin kaget ketika menemukan Museum Sejarah Nasional di bawah Tugu Nasional. Pintu masuk museum terletak di belakang Patung Dipanegara.

Museum hanya terdiri dari satu ruang pameran. Adem dan plong banget. Bayangkan saja jika anak-anak bisa bermain sepak bola di sini. Satu-satunya museum aku kira dimana beberapa bocah bisa berlari-lari menggiring bola di dalamnya.

Dari museum menuju pelataran puncak, pengunjung harus membeli karcis lagi. Jika sedang sepi bolehlah naik sampai puncak menikmati selayang pandang kota metropolitan. Saat hari cerah akan terlihat Gunung Salak dan Gede-Pangrango di arah selatan. Gampang kok membedakan gunung-gunung ini. Puncak Salak terlihat jigrak. Puncak Gunung Pangrango seperti tumpeng ucul pucuknya, Gunung Gede menyerupai punggung sapi sedang rebahan. Tapi pemandangan ini mah jarang-jarang banget bisa dapat. Pagi-pagi di akhir pekan panjang atau setelah hujan lebat mungkin waktu terbaik. Wish you good luck!

 

msn_benteng.jpg

DIORAMA PATTIMURA

Koleksi Museum Sejarah Nasional boleh dikatakan seluruhnya berupa diorama. Awalnya fun juga mengamati tokoh-tokoh yang selama ini hanya kita kenal sebagai nama jalan. Pangeran Dipanegara, Imam Bonjol, Pattimura, Sisingamangaraja, Kartini, Jenderal Sudirman. Begitu pula tokoh-tokoh dari Kerajaan Hindu-Buddha seperti Airlangga dan Gajahmada. Tak kalah seru adalah miniatur kapal dari berbagai masa, dapat kita saksikan melalui diorama Bandar Sriwijaya Abad VII-XIII, Armada Perang Majapahit Abad XIV, Armada Dagang Bugis.

Mulanya diorama menarik tetapi kok rasanya terlalu banyak diorama seputar perang melawan penjajah, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan. Tentu saja tidak salah tetapi kemudian museum akan lebih tepat sebagai semacam museum sejarah perjuangan kemerdekaan daripada museum sejarah nasional.

Apalagi jika kita cukup iseng untuk menghitung maka ambil saja dari titik diorama Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1908 (Sisi 2) hingga Integrasi Timor-Timur, 1976 (Sisi 4), kita akan menemukan peristiwa-peristiwa dalam kurun 1908-1976 dipresentasikan oleh 27 dari total 51 diorama (52 seharusnya). Artinya lebih dari setengah diorama didedikasikan untuk mendeskripsikan sejarah yang berlangsung dalam perjalanan kehidupan bangsa Indonesia selama 68 tahun saja.

Diperhatikan lagi dengan serius kok ya banyak sekali diorama peperangan. Pertempuran Pembentukan Jayakarta (22 Juni 1527), Armada Dagang Bugis, Perang Makassar, Perlawanan Pattimura (1817), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Imam Bonjol (1821-1837), Perang Banjar (1859-1905), Perang Aceh (1873-1904), Perlawanan Sisingamangaraja (1877-1907), Pertempuran Jagaraya (1848-1849).

Aku rasa untuk sebuah museum menyandang nama besar museum sejarah nasional, dia tidak boleh melulu dipresentasikan a la museum sejarah perjuangan kemerdekaan karena sebuah museum sejarah nasional meminjam ungkapan Iola Lenzi (Museums of Southeast Asia, 2004) adalah, '..a living repository of history, heritage and culture...’

So? No comment lagilah.
Enjoy saja..

 

 

 

Tanggal Terbit: 11-04-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.