Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Kata 'museum' berasal dari bahasa Latin, ialah kuil untuk memuja Muses yaitu sembilan dewi dalam mitologi Yunani yang masing-masing berkuasa dalam bidang epos, sejarah, puisi cinta, lagu, drama tragedi, himne, tari-tarian, komedi, dan astronomi.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Samudraraksa, Candi Borobudur, Magelang

 

Fort de Kock

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


fdk_tulisan.jpg

FORT DE KOCK


Bukittinggi negeri kelahiran Bung Hatta (1902-1980) adalah kota yang sejuk (sekitar 910 meter dpl). Beberapa tempat wisata terkenalnya adalah Jam Gadang di Taman Sabai Nan Aluih, Taman Monumen Bung Hatta, Taman Bundo Kanduang, Ngarai Sianok, Taman Panorama.

Turun ke Ngarai kita akan menemukan Sungai Batang Sianok, kicuit batu, dan beragam kupu-kupu. Seorang pria menggendong senjata laras panjang memberitahu bahwa dari ngarai kita bisa berjalan sampai Desa Pandai Sikek. Gambar perempuan menenun di uang kertas lima ribu emisi 2001 adalah penenun songket dari Pandai Sikek.

Bukittinggi, Bukik Nan Tatinggi, memiliki benteng pertahanan Belanda Fort de Kock di kompleks Taman Bundo Kanduang. Dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh dengan kebun binatang dan Museum Rumah Adat Baanjuang.

Fort de Kock berdiri di atas Bukit Jirek yang dibangun oleh Letnan Kolonel Bauer, Komandan Militer Pantai Barat Sumatera pada waktu itu. Meniti anak tangga menuju benteng, sebuah prasasti ditandatangani walikota Bukittinggi (15 Maret 2003), 

Benteng Fort de Kock ini didirikan oleh Kapten Bauer tahun 1825 di atas Bukit Jirek Negeri Bukittinggi sebagai kubu pertahanan Pemerintah Hindia Belanda menghadapi perlawanan rakyat dan PERANG PADERI yang dipimpin oleh TUANKU IMAM BONJOL. Ketika itu Baron Hendrick Markus de Kock menjadi Komandan de Roepoen dan Wakil Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda. Dari sinilah nama lokasi ini menjadi Benteng Fort de Kock.

Fort de Kock semula berbentuk bintang namun sekarang hanya tersisa secuil bangunan persegi bercat putih. Tadinya aku sempat tak percaya meski tertulis Fort de Kock 1825 di dinding bangunan. Bertanya sekali lagi kepada penduduk setempat. Memang sia-sia jika hendak mencari sisa-sisa kebesaran benteng yang sebelumnya pernah menyandang nama Sterreschans (bintang pelindung).

 

fdk_1825.jpg

FORT DE KOCK, 1825 (WIKIPEDIA)

Hendrik Merkus de Kock (1779-1845) atau Jenderal Kock yang diabadikan sebagai nama benteng di Bukittinggi adalah commander-in-chief Hindia Belanda yang mengakhiri Perang Dipanegara (1825-1830). Kock menggunakan taktik mengundang Dipanegara ke Magelang namun ketika perundingan tidak berjalan baik Kock justru memerintahkan penangkapan Dipanegara.

Pada tahun 1830, Kock kembali ke Belanda tetapi taktik serupa sekali lagi digunakan Belanda untuk menghadapi pemimpin kaum Paderi Imam Bonjol (1772-1864) dan berhasil. Perang Paderi (1821-1837) dipicu pertikaian dan perebutan kekuasaan antara kaum adat dan kaum ulama/agama (paderi). Belanda kemudian mendukung kaum adat. Perang berlangsung selama 16 tahun sebelum Imam Bonjol diundang Belanda untuk berunding. Namun yang terjadi adalah Beliau ditangkap dan diasingkan ke Manado hingga akhir hayatnya.

Sejarah memang mengandung hikmah.
Jika saja hikmah bisa diterjemahkan dalam keseharian.

 

 

Tanggal Terbit: 01-01-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.