Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Kebun binatang dan kebun raya juga dikategorikan museum, yakni living museum.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (7)

 

  Benteng (3)

 

  Biologi (9)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (8)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (19)

 

  Pribadi (7)

 

  Sejarah (14)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (14)

 

  Transportasi (3)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Ganesha Naik Gajah, Museum Kasepuhan, Cirebon

 

Museum Jamu Jawa Asli

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


Jamu_Kaligawe.jpg

MUSEUM JAMU JAWA ASLI, SEMARANG

Semarang, 22 Agustus 2014. Lompat saja kedalam bus baru nanya 'Terboyo?'...hehe yakin saja. Toh pada akhirnya semua bus akan mengalir sampai terminal. Aku minta berhenti di Nyonya Meneer. Lalu ikut bus menggak-menggok di kota Semarang. Lintas di depan Museum Mandala Bhakti, Lawang Sewu, Toko Oen. Sampai udah dekat terminal ketika pak kernet ndadak nanya apa aku ke Nyonya Meneer Kaligawe. Lha iya. Terus meluncur kalimat pamungkas, 'Ada Nyonya Meneer di Raden Patah.' Haa! Tengah hari, belum makan, perut lapar dengar kata-kata begini. Wuih! Untung museum di Kaligawe, tak jauh dari terminal.

 

Jamu_Resepsionis.jpg

RUANG RESEPSIONIS

Isi buku tamu di pos satpam. Isi buku tamu lagi di ruang resepsionis. Terus diajak pemandu Mbak Lilis ke lantai dua. Tertera di prasasti peresmian, nama lengkap museum adalah Museum Jamu Jawa Asli. Ribet heey. Jamu bukannya udah identik dengan Jawa, ditimpuk asli lagi. Tapi gak loh. Jamu ternyata artinya racikan herbal. Alias bisa ada jamu jawa tapi juga lain-lain kayak jamu madura (mah terkenal lagi). Setiap suku di negeri ini memiliki ramuan herbal masing-masing loh. Kekayaan yang hebat sesungguhnya. Bumi Pertiwi yang kaya raya dan menumbuhkan segala yang difirmankan kepadanya. Manusia memetik manfaat yang holistik dengan pengetahuannya.

 

Jamu_Museum.jpg

RUANG PAMER

Ruang pamer mengadopsi interior bentuk joglo. Pendingin udara dan pencahayaan yang lirih menambah nyaman suasana. Dekor seakan mengantar telinga mendengar alunan gending jawa. So bikin lapar jadi lupa.

Sebuah meja di tengah sokoguru (empat tiang utama) menyajikan rupa-rupa koleksi seperti bahan baku jamu (akar wangi, temugiring, kapulaga), herbarium, timbangan pasar, produk-produk PT Nyonya Meneer. Pemandu tak lupa mempromosikan Jamu Singkir Angin, 'Kalau hanya ditolak, nanti anginnya datang lagi.' Hehehee...suara tawa berhamburan. Tapi kalau sepede itu kok bungkusnya mirip Mbak ^_^

Mbak Lilis kemudian mengisahkan jamu untuk terapi dipraktikkan Nyonya Meneer ketika sang suami sakit keras. Berbagai obat tidak membawa kesembuhan. Nyonya Meneer kemudian meramu jamu jawa yang diajarkan orangtuanya. Syukur ketika kesembuhan pun akhirnya datang. Sejak itu usaha kecil-kecilan pun bermula. Berkembang hingga kini sebagai merek yang dipercaya. Sebuah foto Nyonya Meneer berkebaya encim disamping mobil sales menunjukkan kemajuan yang bahkan telah dicapai semasa hidup perempuan pengusaha tangguh ini.

 

Jamu_Diorama.jpg

DIORAMA PEMBUATAN JAMU

Sebuah bingkai raksasa menampilkan prangko Seri Tokoh Wanita yang diperbesar. Tanggal terbit sepuluh tahun lalu, tepat bertepatan 21 April 2004. Dipilihnya pengusaha perempuan kelahiran Sidoarjo karena 'Nyonya Meneer telah menjadi seorang pionir dalam industri jamu jawa asli yang semakin berkembang hingga saat ini.' So 'berbakti' pada guru sekolah (alias semua dikembalikan setelah lulus), seseorang setengahnya berseru ketika melihat Seri Tokoh Wanita, 'Itu Kartini!' Semua mencari ke kanan-kiri, atas-bawah, 'Manaaa.' Dia tunjuk foto Nyonya Meneer. Mantabs! Tapi zamannya Nyonya Meneer (1895-1978), Kartini (1879-1904) masih loh. Noni (nama panggilan saat kecil) berusia sembilan tahun ketika Kartini menutup mata.

Dalam kaitan ini, diorama pembuatan jamu tempo doeloe menampilkan lumpang dan alu yang digunakan sejak berdirinya perusahaaan pada tahun 1919 menjadi lebih menarik lagi. Saat itu Kartini baru saja meninggal 15 tahun lalu, di Semarang yang hanya berjarak seratusan kilometer dari Rembang, muncul seorang pengusaha perempuan. Artinya masih ada ruang gerak dan keleluasaan untuk perempuan pada masa itu.

 

Jamu_Plant.jpg

GANDARUSA UNTUK JAMU

Herbal berkhasiat obat yang dipamerkan berikut tumbuhannya adalah gandarusa, imba, sambang getih, iler di pot yang cantik. Proses pembuatan jamu dikisahkan melalui lima tahap dari bahan baku hingga ramuan jamu siap jual. Tentu akan keren sekali jika ditampilkan lebih banyak bahan jamu. Bisa menjadi suatu pameran herbal yang bergengsi sekaligus rujukan serta suatu promosi yang berkelas. Tak kalah dengan Seoul Yangnyeongsi Herb Medicine Museum yang memamerkan hingga 350 jenis herbal.

Koleksi pribadi meliputi foto-foto keluarga, sejumlah keramik, sempoa, kacamata, pensil, tempat minum jamu dari kuningan, penginangan atau tepak sirih, kacip motif kuda lumping tak kurang dengan contoh pinang dan gambir, buku-buku herbalisme berbahasa Belanda milik Nyonya Meneer. Koleksi seru adalah botekan untuk menyimpan resep dan bahan jamu, serta sebatang pohon dari bahan dasar jamu.

Lain-lain adalah iklan zadul dan contoh produk berupa macam-macam jamu, minyak telok, param kocok, sabun mangir, lulur. Baru tahu Nyonya Meneer (lengkapnya Jamu Jawa Asli Cap Portret Nyonya Meneer) tak hanya jamu ^_^

 

Jamu_Patung.jpg

PATUNG NYONYA MENEER

Nyonya Meneer tadinya aku kira dipanggil demikian karena suaminya orang Belanda tapi nama ternyata berasal dari ibunda yang mengidam nasi dari menir (pecahan beras) ketika mengandung. Sehingga ketika lahir pada 1893 bayi perempuan pun dipanggil Menir. Ditulis 'Meneer' karena ejaan Belanda. Jadi nama aslinya siapa Mbak. Lauw Ping Nio. Loh, nama Tionghoa. Peranakan toh.

Sebagai info. Singapura memiliki Peranakan Museum. Malaysia punya Baba & Nyonya House Museum di Malaka, Pinang Peranakan Mansion di Penang. Indonesia juga ada loh. Museum Benteng Heritage di Tangerang dan Museum Peranakan Tionghoa, TMII, Jakarta.

 

Jamu_Produk.jpg

PRODUK PT NYONYA MENEER

Sebuah museum yang mengasyikkan. Masih bisa diperkaya dengan sekilas herbalisme di Nusantara dan sejarah jamu jawa secara spesifik. Aku baru saja memperhatikan sebatang pohon dari bahan jamu ketika lain-lain sudah bergerak ke tangga diajak Mbak Lilis turun ke lantai satu. Kemudian ada yang membeli jamu yang ditawarkan. Karena kebanyakan minumnya cuman temulawak atau kunir asam homemade (terakhir ini kalau udara lagi panas), jadi aku ambil, beli maksudku, minyak kayu putih saja. Lalu pulang ke Yogyakarta. Bukan bandeng presto, lumpia, wingko oleh-olehnya tapi Eucalyptus Oil from Samarang ^_^

 

Tanggal Terbit: 19-10-2014

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.