Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Pieter Bruegel adalah seorang pelukis terkenal di Eropa pada abad ke-16, dia lahir tahun 1525 di Antwerp, Belgia. Dia sangat menyayangi orang biasa dengan segala kesengsaraannya. Tetapi lukisannya juga memperlihatkan kepada kita kesukaannya kepada anak-anak. Dia adalah salah satu dari sedikit pelukis di dunia yang memberi analisa perhatian kepada anak-anak dan permainannya (note: lihat 'Children's Game). Sumber: Museum Mainan Anak Kolong Tangga, Yogyakarta

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (6)

 

  Benteng (2)

 

  Biologi (8)

 

  Geologi (3)

 

  Lain-lain (4)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (15)

 

  Pribadi (5)

 

  Sejarah (13)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (11)

 

  Transportasi (2)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Radya Pustaka, Solo

 

Museum Keraton di Cirebon

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


MUSEUM KERATON KANOMAN DAN KASEPUHAN

Oleh: TE EFFENDI
http://manusia-pejalankaki.blogspot.com

 

Cirebon memiliki tiga keraton, yaitu Kanoman, Kasepuhan, dan Kacirebonan. Kami memulai perjalanan dari Keraton Kanoman. Halnya keraton-keraton lainnya di Jawa, selain sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal sultan, keraton merupakan pusat adat dan budaya. Sayang, kompleks Kanoman seluas 6 ha berlokasi di tengah-tengah pemukiman penduduk dan di belakang pasar tradisional, sehingga lokasinya kurang dapat dikenali sebagai sebuah keraton yang memiliki sejarah panjang dan luar biasa. Tahukah kawan, bahwa di salah satu bangsal yakni Bangsal Witana dua putra Prabu Siliwangi, Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang pernah menimba ilmu agama. Namun sisa-sisa kejayaan dan kemasyhuran tersebut terkubur dalam sebuah bangunan kuno yang kurang terawat. Sekali lagi sayang, seribu kali sayang.

 

cirebon_1.jpg

KERATON KANOMAN, CIREBON

Keraton Kanoman berdiri pada tahun 1588, terlihat dari prasasti yang tertera pada pintu Pendopo Jinem menuju Ruang Purbayaksa. Dalam prasasti tersebut terpahat sengkalan berikut 'Matahari' (angka 1), 'Wayang Darma Kusumah' (angka 5), 'Bumi' (angka 1), dan 'Bintang Kemangmang' (angka 0). Jadi 1510 Saka, jika dikonversi menjadi 1588 M.

Mengapa dalam suatu pemerintahan muncul dua kepemimpinan? Kasepuhan dan Kanoman? Ceritanya berawal setelah Panembahan Ratu II (Panembahann Girilaya) meninggal dunia. Panembahan Ratu II memiliki tiga orang putra, yaitu Pangeran Martawijaya, Pangeran Kertawijaya dan Pangeran Wangsakerta (kami kurang paham dari ketiganya siapa yang paling tua, menurut informasinya, Pangeran Wangsakerta adalah yang paling muda). Pangeran tertua justru dinobatkan sebagai Sultan Kanoman bergelar Sultan Kanoman I (Sultan Badridin). Sedangkan Pangeran Kedua memerintah Kasepuhan, bergelar Sultan Sepuh Abil Makarim. Bagaimana nasib anak terakhir? Anak terakhir bukan sebagai sultan, tapi sebagai Panembahan Kacirebonan dengan gelar Panembahan Tohpati (lagi-lagi mohon masukannya kalau ada yang salah kawan…^^).

Kami sampai di Keraton Kanoman ini kurang lebih pukul 11.30, sempat heran juga, apakah keraton terbuka untuk umum karena ketika kami memasuki kompleks keraton tidak ada yang menyambut kami (emang siapa kalian mesti disambut, hehehe), malah kompleks ini menjadi arena bermain anak-anak dari perkampungan sekitar. Suddenly, ada akang-akang kalem yang menyamperi, “Mau lihat-lihat?” O, jelas Kang, dan Akang inilah yang mengantar kami. Si Akang mohon maaf karena bukan guide yang sebenarnya. Beliau adalah salah seorang kerabat keraton, karena pemandu keraton sedang sibuk mengurus acara 1 Muharam yang waktunya hampir bertepatan dengan Dirgahayu Cirebon sehingga serentak dilaksanakan 18 Desember 2009. OMG, kami salah jadwal ternyata, karena pada tanggal-tanggal tertentu seperti 1 Muharam, Maulid Nabi dan Dirgahayu Cirebon, keraton-keraton akan menyelenggarakan upacara-upacara adat. Tapi tak apalah, yang penting kami sudah sampai di Cirebon ini.

 

cirebon_2.jpg

LONCENG GAJAH MUNGKUR

Akang tersebut mengantar kami ke dalam gedung utama di mana Sultan bertahta (maaf kawan-kawan, kami lupa namanya…^^). Keraton ini ukurannya tergolong kecil, tapi dari nilai sejarah sangat besar maknanya. Di belakang keraton juga terdapat situs witana yang dalam bahasa Jawa wit adalah asal mula/cikal bakal dan ana berarti ada. Cikal bakal apa? Kawan-kawan akan terkejut setelah mengetahuinya, ternyata itu adalah asal mula Kota Cirebon (jreng..jreng..^^).

Sebagaimana disampaikan pada segmen sejarah Cirebon, Pangeran Walangsungsang bersama Ki Gedeng Alang-alang membabat hutan untuk menjadi dukuh Tegal Alang-alang. Mungkin disinilah tempatnya. Tapi kami tak sempat kesana…T_T. Di sebelah kiri gedung ini terdapat lonceng kuno yang dulu berfungsi untuk mengumpulkan warga. Ini yang sedikit aneh menurut kami. Dalam tradisi Islam (Cirebon merupakan kesultanan dan pusat penyebaran Islam) pada umumnya sarana yang dipergunakan adalah beduk masjid, tapi ini justru lonceng bernama Gajah Mungkur.

Di dalam kompleks Kanoman juga terdapat Gedung Museum Keraton Kanoman. Kalau masuk kompleks keraton tadi gratis, tapi yang ini harus bayar. Tiket masuknya Rp 3.000. Koleksi utama museum kalau boleh kami katakan adalah tiga kereta kerbau (dulu menggunakan kerbau bule, karena susah akhirnya diganti dengan kuda). Dari tiga kereta tersebut, dua diantaranya asli (untuk sultan satu dan permaisuri satu), satunya replika dibuat oleh kawan-kawan mahasiswa ITB pada saat Festival Keraton Nusantara di Cirebon pada tahun 1997. Dua kereta tersebut bernama Paksi Naga Liman dan Jempana. Ini lagi satu yang unik dan khas Cirebon, apakah itu? Sawer. Bahkan untuk kereta dan kursi tempat pernikahan sultan pun diberikan saweran oleh para pengunjung. Ada yang bilang untuk berkah dan lain sebagainya. Tapi bagi kami, sawer tersebut silakan saja dengan maksud bagi perawatan museum ini agar tetap terjaga dan terpelihara sebagai warisan budaya. Tidak hanya di Yogya yang sarat mitos dan mistis, di keraton inipun serupa, terlihat dari masih banyaknya kemenyan dan bunga-bunga yang ditebarkan di bawah kereta dan situs-situs lainnya.

Paksi Naga Liman merupakan kereta hibrida budaya Islam, Hindu dan Cina. Islam diwakili sayap (implementasi dari bouraq, burung tunggangan Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra’ Mi’raj), Hindu diwakili gajah (Ganesha) dan Cina diwakili naga (walaupun yang terlihat hanya tanduknya saja), oleh karena itu namanya Paksi (burung) Naga (naga) Liman (gajah).

Kenapa Cina bisa masuk sebagai salah satu budaya yang erat di Cirebon (terlihat juga dari arsitek-arsitek serta peninggalan berupa keramik-keramik dan seni keramik tempel yang ada di dalam museum). Hal ini tak lain tak bukan adalah, karena salah satu istri Sunan Gunung Jati atau Syarief Hidayatullah adalah putri Cina bernama Ong Tien, putri Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming. Kalau dilihat dari sisi sejarah, Cirebon memang penuh dengan akulturasi budaya, Sunan Gunung Jati sendiri babenya Sultan Mesir, Syarief Abdullah, bundanya putri Prabu Siliwangi, Lara Santang (Note MI: referensi diperlukan). Salah satu istrinya orang Cina, Ong Tien, putri Kaisar pula. Wajarlah kalau Cirebon kemudian menjadi besar karena peradaban mereka sangat tinggi (tak ada yang meragukan peradaban Mesir dan Cina pada waktu itu, bahkan jauuuuuuh sebelumnya).

Kami secara terpaksa menyudahi kunjungan di Kanoman ini, ada dua hal terutama, pertama, jam menunjukkan pukul 12.30 (kami sudah melenceng dari jadwal yang ditetapkan), kedua mendung sudah pekat bergelayut siap mengguyur kami. Akhirnya dengan menempelkan uang Rp.20.000 (sebagai ucapan terima kasih kami pada Akang yang mengantar kami) kami bersalaman dan berpamitan menuju Keraton Kasepuhan. Akang pun menunjukkan jalannya. Keluar gerbang belakang, lewat perkampungan belok kiri, terus belok kanan ketemu jalan raya, kemudian belok kiri, luruuuuus aja sampai ketemu perempatan belok kanan. Di sanalah lokasi Keraton Kasepuhan dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Jaraknya kurang lebih 500 meteran.

 

cirebon_5.jpg

MUSEUM KASEPUHAN, CIREBON

Dulu keraton ini hanyalah sebuah rumah besar yang dibuat oleh Pangeran Sri Mangana Cakrabuana pada tahun 1480. Pangeran Cakrabuana yang memeluk agama Islam adalah putra tertua Prabu Siliwangi. Keponakan dan menantu Beliau yakni Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati naik tahta setelah Pangeran Cakrabuana wafat pada tahun 1483. Selanjutnya tahta diteruskan oleh Pangeran Emas bergelar Panembahan Ratu I. Pada era Panembahan Ratu I inilah dibangun keraton baru di sebelah barat Dalem Agung; yaitu Keraton Pakungwati (salah satu istri Sunan Gunung Jati). Sejak 1697, Keraton Pakungwati lebih dikenal dengan nama Keraton Kasepuhan dan sultan bergelar Sultan Sepuh. (Note MI: silsilah pemegang tampuk kekuasaan memerlukan referensi)

Kami sampai di Keraton Kasepuhan kurang lebih pukul 13.00 karena sebelumnya sempat berteduh sekalian sholat dulu di Masjid Sang Cipta Rasa. Hujan mulai turun kawan, kekhawatiran kami terjadi, tapi untung, hujan hanya memberikan salam sapanya kepada kami, baru turun sudah berhenti akhirnya kami bisa memasuki Keraton Kasepuhan. Kami membeli tiket masuk seharga Rp 3.000 plus kamera Rp 1.000, dan disambut seorang pemandu. Eits sebentar, kayaknya kami pernah melihat bapak ini deh, yak. Bapak ini adalah pemandu yang pernah mengantar acaranya si Farhan (Tatap Muka TVOne) ketika berkunjung ke Kasepuhan ini…hmmm, bapak ini udah pernah masuk tipi ternyata…kami aja belum…hiks…okelah, kita lanjutkan perjalanan.

Pemandu menjelaskan asal muasal dan gedung-gedung yang ada di dalam keraton ini. FYI kawan-kawan, saat ini ada kurang lebih 30 abdi dalem yang masih aktif melayani Sultan Sepuh dan beberapa guide masih kerabat Sultan.

Kami melewati pintu gerbang yang menyerupai pura-pura di Bali. Inilah salah satu makna Cirebon dari kata 'Caruban' yang artinya campuran karena sampai saat ini, jejak pluralisme masih sangat kental di sini. Sebelumnya kami juga dijelaskan tentang konsep Sedulur Papat, Limo Panjer yang makna filosofisnya empat tiang untuk satu tujuan, yakni tegaknya syariah. Konsep ini yang menjadi landasan bangunan-bangunan di keraton ini. Karena hujan langsung menghajar kami tanpa ampun singkat cerita kami pun masuk ke bangsal kereta. Jika di Kanoman museumnya hanya pada satu tempat khusus, maka kalau boleh kami katakan, sebagian besar kompleks Kasepuhan adalah museum; terrmasuk bangsal kereta ini.

Di dalamnya terdapat kereta Singa Barong, kereta dengan sistem mekanik tercanggih di kelasnya. Kami sangat senang karena sang pemandu kami bercerita dengan sangaaat antusias. Kami hanya manggut-manggut, antara kagum dan ga ngerti. Yang kami ngerti, kereta ini adalah kereta pertama yang memiliki mekanisme power steering dan menggunakan shock breaker a la mobil zaman sekarang. Kereta ini didesain sedemikian rupa sehingga penumpang tidak merasakan goncangan-goncangan akibat batu kerikil jalanan. Selain itu, rodanya pun didesain khusus antibengkok, antiganti, serta yang jelas antibocor, hehe. Roda didesain sedemikian rupa sehingga kalau melewati genangan air maka penumpang tidak terciprat air karena bentuknya yang bla-bla-bla (mohon maap kawan, bahasa yang dipergunakan si bapak teknis banget, kami ga bisa mengulangi, tapi intinya itulah….). Masih ada kehebatan lainnya, ketika kereta berjalan, sayap di samping kiri dan kanan kereta akan mengepak-kepak seolah hidup, dan mulutnya akan terbuka dan tertutup (sebentar, kami lupa, mulut apa lidah ya, yang melet-melet, lupa lagi euy, pokoknya daerah sekitar situlah). Bayangkan kawan, pada abad ke-15, desainer-desainer kita sudah bisa menciptakan sistem yang hebat seperti itu, brilian bukan? Setelah ratusan tahun, replikanya pun dibuat, tapi hasilnya jauh dari aslinya, mengutip dari kata-kata si bapak pemandu, “Tinggal nyontek aja ga bisa” (dengan nada sinisme, ouw, kami sebagai generasi tukang nyontek jadi tertohok banget tuh…^^).

 

cirebon_6.jpg

LUKISAN PRABU SILIWANGI

Masih di dalam bangsal ini juga terdapat koleksi yang konon adalah Prabu Siliwangii. Lukisan tersebut dibuat oleh seniman dari Garut (ceuna) berdasarkan imajinasi pelukisnya, karena tidak ada satu pun yang tahu bagaimana rupa Prabu Siliwangi. Satu yang khas adalah selalu ada maung (harimau) di sisinya sebagai teman seperjuangan.

Dari bangsal kereta kami diantar ke ruang sultan menerima tamu. Kami terkesima oleh keramik yang menggambarkan isi Alkitab. Selain itu berdampingan dengan relief tadi juga diceritakan tentang sejarah Islam dan Konghucu. Sungguh kota ini sudah mengenal toleransi dan pluralisme yang tinggi sejak 500 tahun lalu. Pada saat kami keluar, ada yang kami rasa janggal, yaitu ternyata, bangunan ini tidak lurus, dari arah depan, untuk menuju ke ruang di belakangnya membelok serong ke kiri, jadi tidak berada dalam garis lurus yang membentang seperti di Keraton Yogyakarta. Kenapa eh kenapa? Ternyata ada pengaruh fengshui juga ternyata (ouw, satu lagi akulturasi budaya yang kami temukan dan pelajari di kota ini).

Setelah kami keluar dari gedung utama, kami berjumpa dua patung maung dan meriam tua. Walaupun mencoba untuk melepaskan diri dari Pajajaran, tapi simbol-simbol kebesaran Prabu Siliwangi masih kentara di sini. Diantaranya adalah simbol macan yang merupakan ikon Pajajaran khususnya Prabu Siliwangi. Persib Bandung pun berjuluk Maung Bandung kan. Jawa Barat memang tidak pernah lepas dari Siliwangi, seperti halnya Jawa Timur yang tidak lepas dari Brawijaya.

Sebetulnya bapak pemandu masih menawarkan kami untuk mengunjungi beberapa tempat lagi, namun karena sudah pukul 14.15, maka kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum pamit kami berembuk, masa bapak yang sudah sangat baik hati ini kami berikan ucapan terima kasih saja. Enggaklah pastinya, setiap budi baik harus kami balas dengan budi baik, tetapi setiap budi jahat, biar Tuhan yang membalas secara pantas. Akhirnya kami bersalaman dengan menempelkan Rp 20.000 kali dua, alias Rp 40.000. Maap-maap cuma itu yang bisa kami berikan membalas kebaikan Bapak. Mungkin kawan-kawan nanti yang mengikuti jejak kami, akan bisa merasakan beratnya memberikan sejumlah itu, bukan berat dalam artian kebanyakan yak, tapi berat dalam artian kami segan karena merasa itu tak cukup mewakili jutaan informasi yang kami terima dari bapak itu. Semoga Tuhan nanti yang membalas berlipat-lipat, ameeen.

 

 

Tanggal Terbit: 19-12-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.