Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Dalam masyakarat Dayak tato tidak hanya berfungsi sebagai simbol status sosial ataupun sebagai hiasan. Motif tertentu diyakini memberi kekuatan dan menangkal roh jahat, serta sebagai suluh yang menerangi roh dalam perjalanan ke alam akhirat (Sumber: Museum Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak)

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (6)

 

  Benteng (2)

 

  Biologi (8)

 

  Geologi (4)

 

  Lain-lain (5)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (18)

 

  Pribadi (5)

 

  Sejarah (13)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (13)

 

  Transportasi (2)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Serangga dan Taman Kupu, TMII, Jakarta

 

Museum R.A. Kartini

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


replika_meja_kerja.jpg

REPLIKA MEJA KERJA KARTINI


Museum Kartini terletak di utara alun-alun. Gedungnya mungil dan terselip. Tadinya aku mengira gedung museum dulu adalah rumah Kartini tetapi ternyata bukan. Museum didirikan pada tahun 1975 dan diresmikan dua tahun kemudian. Mengingat nama besar Kartini tentu dengan sendirinya aku mengharapkan sebuah museum di atas rata-rata. Harapan yang segera menciut menjadi okelah setidaknya ada museumnya ketika aku sendiri berdiri tercenung di ruang pameran beberapa langkah dari pintu masuk.

Memasuki museum pengunjung akan berserobok dengan kutipan-kutipan surat Kartini yang diukirkan di papan kayu, satu set meja-kursi ruang tamu, hingga repro foto-foto maupun lukisan Kartini dan adik-adiknya.

Sedangkan replika ruang kerja Kartini di pojok museum terdiri dari meja, kursi, lemari kecil, mesin jahit. Meja-kursi asli terdapat di kamar Kartini saat dipingit di rumahnya yang sekarang menjadi rumah dinas bupati Jepara atau disebut juga pendopo kabupaten. Esok harinya di trotoar depan pendopo aku mulai berpikir apakah aku ini cukup sinting mengira akan diizinkan melongok kedalam rumah kediaman seorang bupati. 'Hanya' karena gedung itu pernah ditinggali oleh Kartini.

 

kartini_meja_kerja.jpg

KAMAR KERJA KARTINI

Ternyata, aku tidak ditolak mentah-mentah oleh bagian keamanan. Malahan direkomen untuk mencari izin ke kantor. Artinya ada harapan dong. Kemungkinan-kemungkinan pun berpendar. Tapi benar-benar tak menyana jika pertanyaan pertama yang kuhadapi di kantor adalah dari instansi mana. Beta turis, Bu! Pertanyaan berikutnya apakah membawa surat permohonan untuk berkunjung. Alamak!

Untunglah di detik-detik terakhir sebelum si turis diputuskan untuk ditolak saja, si ibu menoleh kepada seorang bapak di sebelahnya. Tadinya Pak Sugeng diam saja sambil membereskan pekerjaannya. Satu menit? Dua menit? Bayangkan saja bahkan waktu pun berlalu dengan canggung. Setelah itu, tanpa banyak berkata beliau berdiri dari kursinya dan aku pun diantar ke sana. Sip, sip! Terima kasih banyak, Pak Sugeng.

Aku ditunjukkan kamar pingit Kartini dan pendopo belakang tempat Kartini mengajar di masa pingitannya. Pak Sugeng juga menunjuk pintu di dinding belakang yang dilalui murid-murid saat masuk dan pulang sekolah. Di sini tumbuh pohon cempaka yang sudah ada dari masa Kartini. Aku kira ini dia yang dikisahkan Kartini dalam suratnya (2 September 1902) kepada Ny. Abendanon, 'Pintu dan jendela terbuka, di muka kamar tumbuh pohon cempaka, yang dengan hembusan angin mengirimkan bau yang lembut dan harum kepada kami...'

Kartini, lahir di keluarga ningrat namun tidak terlena. Dipingit pada usia 12 tahun selama empat tahun. Tak pelak merupakan masa yang penuh pendalaman dan perjuangan batin. Pada usia 21 tahun menulis kepada Ny. Abendanon, 'Aku tahu, jalan yang hendakku tempuh itu sukar, penuh duri, onak, lubang; jalan itu berbatu-batu, tak rata, licin...belum dirintis! Dan walaupun aku sudah akan patah di tengah jalan; aku akan mati dengan bahagia.'

 

kartini_pendopo_belakang.jpg

PENDOPO BELAKANG
TEMPAT KARTINI MENGAJAR PADA MASA DIPINGIT


Dari pendopo kabupaten, sebelum meninggalkan Jepara sekali lagi aku berjalan menuju museum sambil mengitari alun-alun dunia Kartini.

'Barangkali memang betul apa yang dikatakan orang, bahwa sebenarnya kami harus tinggal seorang diri di sebuah pulau yang tidak didiami manusia.' Kartini terasing karena menentang praktik poligami yang lazim di zamannya namun berusaha tak surut, 'Tetapi jika demikian, orang lalu betul-betul akan memikirkan diri sendiri saja, bukan? Saya kira, kami harus hidup dengan dan untuk orang banyak. Itulah saya kira tujuan hidup, untuk membuat hidup indah.'

Tidak sepenuhnya benar menyebut Kartini yang gigih menentang poligami sebagai pahlawan kaum wanita. Sebab Kartini menentang poligami dari perspektif ketidakadilan yang menimpa manusia. Hati nuraninya tidak mengizinkan jika dia tidak melakukan sesuatu pada saat penderitaan manusia dirasakannya seperti darah mengalir dalam nadi-nadinya.

Di bangku sekolah dasar kita belajar menyanyikan lagu, '...Putri yang mulia, sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia.' Tapi pertanyaannya adalah di mana terletak kemuliaan Kartini, apa cita-cita Kartini yang besar. Adalah cita-cita Kartini bahwa keadaan yang buruk akibat poligami, feodalisme, imperialisme bisa diperbaiki dari akarnya yakni pendidikan. Kebesaran Kartini bagiku adalah dia memiliki tulus dan merasakan penderitaan orang-orang di sekelilingnya akibat poligami, feodalisme yang penyakitan, maupun bencana alam. Dia mau berusaha menghapus air mata mereka.

 

anak_anak.jpg

ANAK-ANAK MEMBACA CUPLIKAN DUNIA KARTINI

Tidak seperti kemarin hari ini museum sangat ramai. Rombongan anak-anak sekolah bahkan mengantri. Semua staf museum sibuk mengurusi anak-anak jadi aku menyelinap masuk. Melihatku tak payah membayar tiket, mereka hanya senyum-senyum di kulum.

Kali ini aku lebih asyik memperhatikan anak-anak di museum. Mencoba membaca benak mereka yang memperhatikan kutipan surat Kartini. Ada yang termangu, ada yang segera mencatat di buku. Ada juga yang membacanya dengan suara lantang. Sesekali bocah-bocah berseragam pramuka berebutan melontarkan pertanyaan kepada pemandu. Memanfaatkan aji mumpung aku pun ikut rombongan bocah mendengar pemandu menjelaskan koleksi-koleksi seperti dakon, bothekan *baru tahu ternyata ini tempat menyimpan bahan jamu* dan canting.

Tahukah kita ternyata Kartini sangat cakap membatik. Sayang museum tidak memiliki batik karya Kartini. Aku pernah melihat salah satu batiknya, motif kupu-kupu dan anyelir di Museum Nasional.

Semasa hidup Kartini dan adik-adiknya selalu mengenakan sarung batik buatan sendiri, Pramoedya Ananta Toer (Panggil Aku Kartini Saja, 2000) menuturkan, '...bukan karena dengan demikian ia bisa berpamer secara murah tentang kecakapannya membatik, tetapi – dan terutama sekali – untuk membanggakan keunggulan seni rakyat pribumi yang sejauh itu belum dikenal dan belum ditandingi oleh negeri manapun.'

Kartini bahkan pernah menulis Handschrift Japara. Sebuah buku yang mendeskripsikan secara detail proses pembuatan batik dan segala seluk-beluknya.

Dalam suratnya kepada Nelly van Kol, Kartini mengemukakan seni rakyat adalah salah satu alat untuk mencapai kemakmuran rakyat. Oleh sebab itu Kartini sangat memperhatikan seni dan kerajinan rakyat seperti seni ukir, pahat penyu, kuningan, pahat kulit, pandai emas-perak, pandai besi, bahkan industri rumah tangga. Kartini bahkan bertindak sebagai perantara para seniman dengan Oost en West maupun orang-orang Eropa lain untuk mendapatkan pesanan, tanpa mengambil keuntungan apapun dari mereka, kecuali, 'Kami bangga pada rakyat kami yang begitu sedikit dikenal dan tidak diakui itu.' Kartini juga membantu para pengukir dengan menciptakan pola-pola ukiran baru. Ketika usaha telah sukses, Kartini bersorak, 'Hari depan artis-artis Jepara kami sekarang sudah terjamin.'

Rakyat yang yang hidup di gubuk beratap daun nipah kemudian dapat meningkatkan taraf hidup mereka dan membangun rumah kayu. Anak-anak yang dulunya berlari-lari telanjang bulat sudah mulai berpakaian. Sejarah di negeri ini akan selalu mencatat seorang putri bupati yang peduli. Jika jejak ini bisa diikuti tentu akan semakin sedikit ibu yang terpaksa meninggalkan anak-anaknya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di dalam maupun luar negeri.

...

Akhir Januari lalu (2010) aku sempat jalan sampai ke Candi Jago, Malang. Dua bocah perempuan datang dari bermain-main di kali. Di kantong plastik hitam tersimpan baju mereka yang basah. Aku tawari rambutan. Kami duduk di bawah pohon nangka yang sedang berbuah. Ibu mereka sudah setahun bekerja di Malaysia. Hari-hari mereka sederhana: menunggu ibu pulang.

Di Jepara lebih dari seabad silam, seorang perempuan rasakan getir hidup orang-orang di sekitarnya. Dia ingin dan berusaha lakukan sesuatu untuk orang-orang, bukan sanak bukan keluarga tapi disayanginya tulus. Jadi betapa konyolnya spirit humanis Kartini dirayakan dengan cara anak-anak sekolah disuruh berkebaya-sanggulan. Bahwa Kartini berkebaya, memakai batik, benar. Tetapi mengapa.

'Berkah yang paling bahagia dan kaya kami rasakan
kalau kami dapat membantu sesama.'
Kartini (Jepara, 15-09-1902)

 

 

Tanggal Terbit: 13-02-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.