Beranda

Kontak

Kontribusi

 

Tahukah Anda...

Bermahkota bukannya raja. Berbelalai, bergading lainnya gajah. Bersayap bukannya burung. Bersisik lainnya ikan. Bertaji bukannya ayam. Binatang apakah ini. Sumber: Museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan Timur.

 

Kategori Museum

 

  Arkeologi (6)

 

  Benteng (2)

 

  Biologi (8)

 

  Geologi (3)

 

  Lain-lain (4)

 

  Militer (4)

 

  Negeri/Daerah (17)

 

  Pribadi (5)

 

  Sejarah (13)

 

  Seni (7)

 

  Tokoh (11)

 

  Transportasi (2)

   
Publikasi Terkini
 
Pencarian
 

  
Berlangganan Berita
 

  



Museum Pandji Tisna, Singaraja, Bali

 

Museum Etnobotani Indonesia

Pengantar | Komentar | Galeri Foto


etno_relief.jpg

MUSEUM ETNOBOTANI INDONESIA

Jalan Ir. Juanda di Bogor adalah Jalan Raya Pos zaman dahulu. Beberapa pohon kenari tua masih tersisa di sana. Beberapa bangunan tua juga masih berdiri. Kantor pos dulu gereja pertama di Bogor. Sesekali aku singgah untuk membeli sampul hari pertama. Jika sedang jalan kaki, rasa ingin tahu ketika melewati Museum Etnobotani Indonesia memang terpicu. Sekali waktu aku masuk juga.

Pengunjung jangan mengurungkan niat jika di belakang papan nama museum terlihat nama Herbarium Bogoriense (sudah pindah ke Cibinong). Dari gerbang ikuti saja jalan setapak di sebelah kanan yang dinaungi pohon-pohon eboni. Persis setelah tangga, Museum Etnobotani Indonesia berada di sebelah kiri.

Relief sumbangan S.E.Lie (1969) di beranda museum melukiskan kekayaan flora Indonesia. Relief petai dan bunganya yang berkerah seperti Shakespeare segera menarik perhatianku. Petai beserta seluruh keluarga bangsawannya memang makanan favoritku. Ada rahasia agar biji petai bisa dimakan tanpa menimbulkan bau yang keterlaluan saat pipis. Petai mentah memang tak hendak berkompromi namun petai yang dimasak akan menyelamatkan toilet dari kekejaman ini. Tapi jika makannya banyak, susah juga untuk bebas bau. Jalan tol saja tidak bebas hambatan ya!

Kok malah jadi cerita petai. Tapi petai bukannya tanpa manfaat. Dengar-dengar petai berguna untuk kesehatan ginjal. Ada juga yang mengatakan baik dikonsumsi pasien diabetes. Mungkin suatu hari setelah diteliti-teliti akan ditemukan fitokimia dalam petai yang dapat mencegah atau bahkan mengobati penyakit tertentu. Sebab rasanya tak mungkin Tuhan akan mencipta makanan yang sedemikian menggairahkan tanpa terlebih dahulu membuatnya berguna *dari sudut pandang manusia*.

 

etno_buah_biji.jpg

KOLEKSI ANEKA BUAH DAN BIJI

Ruang pameran mempertontonkan keahlian manusia Indonesia memanfaatkan dunia flora. Tak hanya sebagai sumber makanan maupun pohon-pohon menghasilkan kayu untuk membangun rumah dan membuat perabot rumah tangga. Akar, daun, batang, buah, biji dari aneka tumbuh-tumbuhan bisa diolah untuk menghasilkan produk apa saja yang memiliki sentuhan seni. Mari kita lihat satu per satu meski sekilas sana sekilas sini.

Koleksi Mainan Anak-Anak memiliki oceh-ocehan menirukan suara burung dibuat dari buluh bambu, celengan tempurung kelapa, wayang golek dari daun singkong.

Koleksi Topi memamerkan penutup kepala berbahan tumbuh-tumbuhan dari pelosok tanah air, seperti palo-palo engala dari Bone (Sulawesi Selatan) dibuat dari daun sagu, riman dari Aceh berbahan ijuk, daun siwalan dianyam menjadi topi kropyak.

Koleksi Alat Rumah Tangga mencakup bermacam-macam alat pembersih seperti nasa kerah dari akar pohon banar, digunakan di Sambas, Kalimantan Barat; sopu dari akar wangi dan bambu digunakan di Kuningan, Jawa Barat; sapu terbuat dari lidi dan daun salak digunakan di Karangasem, Bali.

Tak kalah menarik adalah pukat lempango (Koleksi Alat Pertanian) untuk menangkap walangsangit di Pontianak (Kalimantan Barat) terbuat dari benang lawe (kapuk), getah keruing, dan getah karet.

Pemanfaatan sagu, bambu, pandan, rotan, kelapa, palem, kayu disajikan dalam tampilan tersendiri. Dari Koleksi Kelapa antara lain terdapat salang yaitu sabut kelapa untuk mengangkat batu atau bata di Kuningan (Jawa Barat), naha nofo licho tempat sirih dari Nias (Sumatera Utara) berbahan dasar lidi kelapa, beruk terbuat dari tempurung digunakan untuk menakar beras di Pasar Beringharjo, Yogyakarta.

 

etno_kapal_cengkeh.jpg

KAPAL CENGKIH

Mandolin (kayu ulin) dari Pontianak, perahu cengkih (kayu mahoni dan buah cengkeh) dari Manado, tempat kapur sirih (kayu angsana) dari Kupang adalah diantara Koleksi Kayu yang menerbitkan kagum. Koleksi Buah menyajikan aneka produk dari buah maja, leje, dan labu. Urung sikap digunakan untuk menyimpan ikan air tawar dibuat dari buah labu dan daun congkok (Kayan Hulu, Kalimatan Timur), bokar diproduksi dari buah maja dan rotan digunakan sebagai wadah madu (Lombok, NTB), koteka penutup kemaluan pria dibuat dari buah labu. 

Koleksi Bambu meliputi bermacam-macam instrumen musik dan alat-alat dapur untuk mengukus nasi, menapis sagu, menampi beras, mengukus kue; wadah buah, benih, ikan, lauk-pauk, telur, hasil hutan, maupun tempat belanja (di Buton disebut langka-langka). Bubu juga dibuat dari bambu dan ternyata beraneka ragam jenisnya. Dikenal sebagai tempirai di Sumatera, keranjang iwak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan), bubu untuk menangkap ikan belut di Jembrana, Bali, disebut posong.

Sejumlah koleksi lainnya dikategorikan menurut Hasil Hutan Masa Kini dan Masa Depan, Kayu Indonesia (Jenis-Jenis Kayu yang Dimanfaatkan), Aneka Buah dan Biji, Pakaian Suku Pedalaman. Pengelompokkan secara geografis mencakup Lontar dan Nusa Tenggara, Tana Toraja, Kalimantan, Tumbuhan dan Bali. Menurut kegunaan praktis/sehari-hari adalah Alat Rumah Tangga, Alat Tenun, Alat Musik, Alat Pertanian, Perangkap Ikan, Kerajinan Tangan, Mainan Anak-Anak. Pemanfaatan tumbuh-tumbuhan sebagai obat menghasilkan kelompok Bahan Obat Tradisional dan Rempah, Herbarium Tumbuhan Obat, dan Jamu Gendong.

Tak pelak adalah museum yang mengusung tema Pemanfaatan Tumbuhan Indonesia dengan layak. Meski akan selalu tersedia ruang untuk mempercantik diri. Di tempat seperti ini waktu jadi terbang. Sekitar jam satu aku ke sini tapi kok ya mendadak sudah pukul empat. Kemana waktu tiga jam itu.

 

etno_jamu.jpg

BAHAN OBAT TRADISIONAL & REMPAH

Koleksi Bahan Obat Tradisional dan Rempah memamerkan bagian-bagian tetumbuhan yang dikenal dalam dunia pengobatan tradisional Indonesia. Rimpang temulawak contohnya, bermanfaat untuk menjaga kesehatan lever. Biji mahoni dimanfaatkan untuk mengontrol kadar gula darah.

Gaharu dan asam gelugur yang disebut-sebut dalam ungkapan (sudah gaharu cendana pula) maupun pantun ternyata dikategorikan obat tradisional.

Kayu lanang dan pasak bumi yang jelas terdengar eksotis, konon berkhasiat afrodisiak. Alih-alih libido, meningkatkan akal sehat lebih-lebih dibutuhkan ya ^_~)

Kayu lanang pernah aku lihat pohonnya di Kebun Raya Bogor, tak jauh dari kolam yang menghadap Jalan Pajajaran. Sedangkan pasak bumi aku temui di Anjungan Kalimantan Barat, Taman Mini Indonesia Indah. Daunnya hijau tua tersusun rapi di tangkai seperti rusuk ikan.

Koleksi beharga antara lain fosil kayu dan herbarium keruing (Dipterocarpus grandiflorus) dikoleksi kurator Kebun Raya Bogor ('s Lands Plantentuin pada waktu itu) J.E. Teijsmann dari Jebus, Bangka (5 Mei 1857).

 

etno_kelapa_laut.jpg

BATOK KELAPA LAUT

Kelapa laut disebut juga kelapa kembar atau kelapa jenggi, tumbuhan endemik Seychelles negara kepulauan di sebelah utara Madagaskar.

Jika pada mulanya hanya tumbuh di pantai Seychelles, sekarang kelapa laut telah ditanam di berbagai tempat seperti Kebun Raya Bogor. Lokasi pohon tak jauh dari Kolam Victoria (KRB). Si pohon tidak tampak tinggi tetapi sudah berbuah. Daun berbentuk kipas sedangkan buah menyerupai kelapa pada umumnya kecuali bentuk batoknya unik.

Beberapa museum mengoleksi batok kelapa laut, satu diantara yang paling kreatif dimiliki Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Si batok berhasil 'disulap' menjadi seekor bebek montok yang manis. Sebuah karya out-of-the-box tentu saja. Bravo!

...

Dalam tulisan The Resurgence of Ethnobotany in Europe, Sue Minter memerikan, 'Ethnobotany is not about the use of plants by indigenous people in the tropics alone, it is also about the daily dependence on plants by all of us.'

Oleh sebab itu adalah sebuah harapan jika museum akan mampu mengingatkan pengunjung tentang pertautan manusia dan alam. Bahwa kekayaan flora telah memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, obat-obatan, mainan anak-anak, hingga sehelai tisu, selembar kertas, dan segala pernak-pernik dalam kehidupan manusia. Bahwa adalah bumi yang menumbuhkan dan pemanfaatan segala yang berasal dari bumi telah menjadikan sebagian alam berdiam didalam diri manusia. Oleh sebab itu manusia tidak bisa melakukan perbuatan melukai alam tanpa dirinya ikut tercederai, terlepas dari apakah dia menyadarinya atau tidak.

 

 



Tanggal Terbit: 05-01-2010

 

 
  Copyright © 2009 Museum Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.